Banyak mendengar cerita dan membaca
catatan perjalanan orang mengenai pendakian Semeru dan bagaimana keindahan
Mahameru bikin sempat terlintas keinganan untuk menginjakkan kaki disana. Tapi
apa iya, mengingat gak sedikit cerita yang mengerikan terjadi disana.
Mahameru, tanah tertinggi Pulau Jawa.
Sampai pada suatu waktu, ada
catatan perjalanan seseorang kaskuser yang sempat menjadi hot thread sekitar
bulan September dan itu makin menginspirasi saya untuk kesana. Ketika orangtua
saya mengunjungi saya ke Palembang (25 September 2012), saya dengan antusiasnya
cerita tentang keindahan Semeru dan puncaknya. Momennya lagi tepat banget,
disaat lagi ngobrol dan kumpul bareng. Saat itu saya bilang “Suatu saat nanti
aku pengen kesana, Ma.” Mungkin saat itu mama saya gak terlalu ambil pusing
dengan ucapan itu, apa iya anaknya bener-bener mau kesana.
Mahameru, tempat bersemayamnya para dewa.
Dari situ saya mulai menggali
informasi, makin banyak catatan perjalanan yang saya baca dan pahami. Saya juga
banyak tanya dan minta wejangan sama yang udah pernah kesana. Yang saya cari bukan
hanya cerita indahnya saja tapi cerita mengerikannya juga. Dari yang tersesat,
jatuh ke jurang, sampai meninggal. Saya pun cari-cari tanggal supaya bisa
kesana. Kuliah saya bener-bener gak bisa ditebak jadwalnya dan selalu penuh.
Libur sebentar pun udah Alhamdulillah banget. Karena tahun depan udah gak
mungkin bisa liburan (sudah masuk koass), jadi saya targetkan perjalanan di
tahun ini.
Mahameru, puncaknya para dewa.
Sampai pada akhirnya saya pulang
ke Lampung saat Idul Adha (26 Oktober 2012). Saya minta izin sama orang tua
saya untuk perjalanan ini dan dengan sedikit negosiasi akhirnya saya
mengantongi izin itu. Agak aneh menurut saya, karena ketika saya minta izin mau
liburan ke Malaysia-Singapura sama teman-teman kampus malah gak diizinin. Bagi
saya, restu orang tua itu ada diurutan kedua setelah niat. Saya mulai
mengumpulkan gear pendakian. Minjem sleeping bag sama om saya sekaligus minta
wejangan tentang pendakian (beliau pas mudanya juga sering mendaki dan
travelling).
Dengan jadwal kuliah saya yang gak
pasti dan jadwal Kevin yang lagi padet-padetnya, rencana ini terancam gagal
total. Ditambah lagi ada berita seorang mahasiswa UB yang tersesat saat
perjalanan turun dari puncak (30 Oktober 2012). Dan orang tua saya tau kabar
itu. Disitu mama saya mulai berat mengizinkan saya. Satu jam ditelepon saya
berusaha meyakinkan mama saya. Sebenernya saya juga gak tega, suara mama saya
udah lemah banget. Saya bisa ngerasain ‘keberatannya’ dan kekhawatirannya,
gimana kalau anaknya hilang/meninggal disana, gak jadi wisuda, gak jadi koass, gak
jadi dokter, dsb. Sampai akhirnya mama saya bilang ‘Kamu pikir-pikir lagi malam
ini. Kamu renungkan ucapan mama. Besok kita omongin lagi’. Sampai besoknya saya
tetep gak berubah pikiran dan mama saya masih berat banget.
Hampir satu minggu saya
dan orang tua saya gak membahas hal ini. Sepertinya saya memang harus mengikhlaskan keinginan ini. Gak semua keinganan kita bisa tercapai kan? Terkadang kita harus merasakan itu agar menjadi pribadi yang mampu mengikhlaskan dan berlapang dada.
Ketika Allah berkendak, maka tak ada satu pun yang bisa menghalangi. Dan sesungguhnya Allah mampu membalikkan perasaan makhluk-Nya. Orang tua saya ngasih 'perbekalan' ke saya sebagai tanda mereka mengizinkan. Alhamdulillah. Dengan wejangan dan nasihat dari orang tua, saya merasa makin mantap untuk kesana.
Ketika Allah berkendak, maka tak ada satu pun yang bisa menghalangi. Dan sesungguhnya Allah mampu membalikkan perasaan makhluk-Nya. Orang tua saya ngasih 'perbekalan' ke saya sebagai tanda mereka mengizinkan. Alhamdulillah. Dengan wejangan dan nasihat dari orang tua, saya merasa makin mantap untuk kesana.
Ada dua pesan dari orang tua saya untuk perjalanan ini:
- Segera pulang
- Jangan berbuat aneh-aneh selama disana
Saya pastikan tanggal 15-18 November 2012 jadwal saya kosong dan saya pastikan jadwal kampus dia juga kosong. Gear yang belum dibeli langsung dibeli. Sempet hopeless lagi karena tiket banyak yang habis (long weekend). Tapi yang namanya destiny ya destiny. Urusan tiket semuanya kelar. Alhamdulillah.
Rencana perjalanan:
Dia berangkat dari kotanya.
Saya berangkat dari Palembang. Meeting point di Stasiun Kereta Api Kota Baru
Malang, 15 November 2012.
Mahameru, tunggu kami :)

No comments:
Post a Comment